Selasa, 10 Mei 2011

(Sinopsis) Baby and I part 1

Lead Cast
Jang Geun Suk
as Joon-soo 
Mason Mun
as Baby Woo-ram Han
Kim Byeol
as Byeol Kim 


Di sebuah pertokoan, Joon Soo dan kedua sahabat tengah memakan mie seduh. Mereka sengaja mengambil posisi tempat duduk menghadap jendela agar bisa melihat pemandangan di luar. Hhehee.. Mereka memakan mie dengan lahap, seraya mengomentari setiap wanita cantik yang lewat. Mereka hanya mengomentari fisiknya, memperkirakan tinggi badannya,  kelangsingan dan kecantikannya. Setiap wanita yang memiliki kriteria yang bagus, mereka akan memberi bintang.

"Hey, bagaimana dengan dia? Dia sangat hot." Salah satu teman Joon Soo menunjuk wanita sexy yang lewat.
"Tidak juga." jawab Joon Soo.

"Lihat. Orang asing. Orang asing. Oh, ayah ibu!" Teriak teman Joon Soo.
Gadis berkebangsaan asing melintas di hadapan mereka, gadis itu memiliki kaki yang jenjang dan sangat glamour.
"Tidak tertarik." Joon Soo kembali menyeruput mie seduhnya.
"Bagaimanan dengan dia? Di sana! Wow." Teriak teman Joon Soo, lagi.


"Bukan mencari kecantikan, man." ungkap Joon Soo. "Bagaimana dengan dia? Sebelah kanan sana. Dia sangat sempurna." kata Joon Soo seraya menunjuk ke arah wanita gendut yang tidak cantik, tidak seksi, malah gadis gendut itu memiliki penampilan yang norak.
"Apa? Kau hilang ingatan?! Kau gila?!" seru teman Joon Soo yang lain.
"Mengapa tidak, man. Lihat wajahnya. Tidakkah dia tipe orang yang terlihat baik?" balas Joon Soo. "Ayo lah." Joon Soo berlari menghampiri gadis gendut itu.
Joon Soo memegang pundak gadis gendut itu. "Permisi." ujar Joon Soo dengan sopan.
Awalnya gadis itu merasa risih, tapi ketika melihat ke arah Joon Soo yang tampan (sangat), gadis gendut itu tersenyum manis pada Joon Soo. Ia sangat terpesona pada ketampanan Joon Soo hingga tas yang dipegangnya terjatuh.

"Ap.. apa?" gadis gendut itu gugup.
Joon Soo memegang ke dua tangan gadis gendut itu. Gadis itu kaget, "Oh, my.."
"Maaf jika aku mengganggu mu, tapi.. Bisakah aku meminta kemurahan hatimu?" Joon Soo tersenyum manis.
"Kemurahan hati?"


"Bisakah aku meminta ASI milikmu?" ungkap Joon Soo seraya menahan rasa malunya.
"apa?!" (hei, perempuan mana yang engga marah kalau diminta kayak gitu, oppa. hahaa)
"Aku tahu ini sangat memalukan! Ini bukan untukku." Joon Soo tersenyum salah tingkah. "Ini bukan untukku..."
Belum sempat Joon Soo melanjutkan kata-katanya, gadis gendut itu langsung menapar Joon Soo denngan lengan gemuknya.
"Memangnya apa aku ini? Apakah aku terlihat seperti perempuan gampangan di matamu? Kau terlihat seperti laki-laki baik-baik dan terlihat normal. Kenapa bukan kau saja yang menyusuinya?!" Gadis gendut itu memaki Joon Soo, ia langsung pergi menjauhi Joon Soo.


Joon Soo memegang pipinya kemudian ia bertolak pinggang. Joon soo kesal, ia amat kesal.
"Man, kau membuatku gila. Akankah ini membunuhmu jika kau hanya meminum susu formula?!" Joon Soo marah-marah, ia mengeluarkan botol susu bayi kemudian mengarahkannya ke arah pundaknya. Daan ternyata ada Joon Soo tengah menggendong bayi di pundaknya.

Baby woo-ram menangis, ia berkata pada Joon Soo. "Ayah, aku benci susu formula." Suara baby Woo-ram terdengar nge-bass. Hahaa.. Yang nge-dubbingnya bukan suara anak kecil tapi suara cowok.
"Berhentilah menangis!" Joon Soo mulai stress.
"Aku bilang ASI !" balas Baby Woo-ram. Kata-kata baby Woo-ram ini ibarat terjemahannya tangisan bayi. (lucuu)
"Kau membuatku gila!" ungkap Joon Soo.
"Adakah seseorang yang mau memberikankku susu ASI?!" Teriak Joon Soo, seraya menendang botol bayi ke langit. Scene ini terlihat dramatis, suara Joon Soo yang menggema dan botol bayi yang melayang ke langit, air susu yang ada di dalam botol itu tumpah. Tumpahan air susu itu punya efek berkilauan.


7 hari sebelumnya
Kedua sahabat Joon Soo terlibat perkelahian dengan orang-orang brandal. Tujuh belas orang lawan dua orang. Kedua sahabat Joon Soo mencoba untuk menghindari pukulan-pukulan, tapi mereka kewalahan menghadapi gang itu.



Seorang pengemudi motor datang, dengan motornya, ia mengacaukan kerumunan orang-orang yang berkelahi itu. Perhatian para gang berpindah ke arah pengemudi motor itu. Coba tebak siapa sang pengemudi motor itu? Joon Soo (Jang Geun Suk oppa.. taraaa). Joon Soo segera melancarkan serangannya, ia bertarung sendiri melawan 17 orang. Hei, pahlawannya di sini Jang Geun Suk, jadi otomatis Joon Soo (Jang Geun Suk oppa) menang.


Joon Soo terlihat kelelahan. Kedua sahabatnya menghampiri Joon Soo, mereka terlihat babak belur.
"Bukankah sudah kubilang untuk menghidar dari masalah?" Joon Soo memperingatkan mereka.
"Nah, man. Mereka yang memulainya duluan. Dan dia memukul kepalaku. Itu terasa sangat sakit, man!" kata salah satu teman Joon Soo.


Joon Soo dan ayahnya yang seorang pelatih karate berada di ruangan yang sepi. Ruangan itu seperti sebuah ruangan latihan khusus karate.
"Apakah kau seorang berandal?" tanya ayah Joon Soo.
"Tidak, pak." jawab Joon Soo, ia menunduk tidak berani menatap mata ayahnya.
"Lalu, kau mencoba untuk menjadi seorang pejuang seperti Fedor?" tanya ayah Joon Soo lagi.
"Tidak, aku hanya ingin ayah..." Joon Soo memberanikan diri untuk menatap mata ayahnya. Kata-katanya terputus,

"A..yah?!" geram ayah Joon Soo. Dalam suatu perguruan karate tidak boleh memanggil guru dengan sebutan lain, meskipun ada hubungan darah.
Ayah Joon Soo mengajak Joon Soo duel. Tentu saja Joon Soo kalah. Ayah Joon Soo membanting Joon Soo, ia mencekik leher Joon Soo dengan lengannya.

"Ayaaaaaaaah!!" teriak Joon Soo.
Joon Soo merasa sesak, ia mencoba untuk berontak tapi tenaga ayahnya lebih kuat.

Tiba-tiba, Ibu Joon Soo datang. Ia langsung menjewer kuping ayah Joon Soo. Ayah Joon Soo kesakitan.
"Apa yang sedang terjadi padamu? Kau benar-benar akan membunuhnya!" bentak Ibu Joon Soo pada suaminya.

"Kau sangat buruk!" sekarang giliran Joon Soo yang kena omel ibunya. "Jika kau hanya akan membuat masalah setiap waktu, cepat menikah dan memiliki seorang anak laki-laki yang memiliki watak sepertimu. Kau akan tau bagaimana menyakitkannya hal itu."



Di depan gerbang sekolah Joon Soo. Byeol Kim berdiri di depan gerbang sekolah, ia masih menggunakan piyama ayamnya. Ia tengah memperhatikan suasana didalam sekolah, hingga ia sadari ada sebuah motor yang datang ke arahnya. Byeol Kim hanya diam ditempat saat tau hal itu. Motor itu hampir saja menabraknya, tapi untungnya si pengedara motor segera mengerem, hingga terdengar bunyi decitan yang keras.


Si pengemudi motor membuka helmnya, seperti biasa dengan efek slowmotion jadi tambah dramatis. Byeol Kim hanya termangu saat tahu betapa tampannya Joon Soo.
Tapi Joon Soo malah berteriak ke arah Byeol Kim, "Kyaaa!! Hey!! Kau berharap untuk mati atau apa?!"
Byeol Kim masih terpana pada Joon Soo. Byeol menghampiri Joon Soo dan meraba bagian jantung Joon Soo.


Joon Soo risih, ia menepis tangan Byeol Kim. "Hah!! Apa yang kau lakukan?! Hey!"
Byeol Kim masih terkesima, ia mengelus pipi Joon Soo. Lagi-lagi Joon Soo menepisnya, "Apa-apaan kau ini?!"
Byeol Kim mengeluarkan handphonenya kemudian memotret Joon Soo, "Aku 01 0 2085 3055. Milikmu?" ujarnya.
"Apa-apaan kau?" Joon Soo turun dari motornya. Ia mengeluarkan uang untuk membayar parkir motor.
Joon Soo memanggil pedagang di samping jalan. "Yo, man!"
"Ya, pak." Jawab pedagang itu.
"Parkir."
"Dipakirkan di tempat yang sama seperti waktu itu?" tanya pedagang itu.
"Okey." jawab Joon Soo.

Joon Soo datang telat ke sekolah, pintu sudah tertutup. Tapi bukan Joon Soo kalau tidak bisa menerobos gerbang yang terkunci itu. Joon Soo meloncati gerbang, Byeol Kim hanya diam terpesona melihatnya.

Di gym, Joon Soo dan temannya sedang di hukum. Ibu guru memukul bagian belakang mereka dengan tongkat kayu.
"Sebenarnya apa kau ini? Pelajar atau anggota anak-anak brandal? Ini sudah seminggu semenjak kalian berdua dihukum." bentak guru, kemudian memukul Joon Soo.
"Bu, ini bukan kesalahan kami. Si brengsek itu duluan yang memanggil kami." teman Joon Soo memberikan alasan agar guru tidak memukul Joon Soo.
"Jika kau tidak melakukan apapun, kenapa mereka sampai meneriakimu, huh?" Ibu guru kembali memukul Joon Soo sampai tongkatnya patah.
"Besok, pihak komite yang akan memutuskan. Mereka akan tetap membiarkanmu di sekolah ini atau mengeluarkan kalian! Jadi, bersiaplah. Satu hal lagi, ajak orang tua kalian besok! Katakan pada Gi-Seok, dia lebih baik harus ada di sekolah besok. Mengerti?!!" lanjutnya seraya berlalu meninggal Joon Soo dan temannya yang kesakitan.

Di rumah Byeol Kim, ayahnya sedang menjemur pakaian sedangkan ibunya tengah mengurus anaknya. Jumlah anak di keluarga ini ada 9 orang. Hhaaha..
"Aku pergi ke sekolah!" anak ke 4 berlari untuk bergegas menuju sekolah.
"Cepatlah. Ingat, hari ini jangan memukuli anak-anak yang lain." nasehat ayah.
"Nomor 1 keluar, nomor 6 disini, nomor 7 di sini. 9 di sini. Tunggu, dimana 8? Sayang, nomor 8 hilang." Ibu mencoba mengabsenn anak-anaknya.
"Periksa lagi. Kim Bohm!" jawab suaminya.
Anak ke 8 berdiri di dekat pintu dengan pakaian dan wajah yang terkena noda. Ibu senang melihatnya, "Kau di sana. Kemari."


Kim Byeol datang. "Ibu."
"Apakah kau pergi keluar dengan piayamu lagi?" tanya ibu.
"Aku ingin pergi ke sekolah!" ungkap Kim Byeol. Ia memasuki rumah dengan terburu-buru.
Ibu dan Ayah terlihat kaget mendengar Kim Byeol akan masuk sekolah lagi.
"Apa yang barusan ia katakan?" tanya Ayah tidak percaya dengan apa yang barusan saja ia dengar.
"Dia ingin kembali bersekolah!" jawab ibu.
"Sekolah?"
Byeol Kim masuk ke sebuah kelas, yang juga merupakan kelas Joon Soo. Seluruh pandangan kelas tertuju padanya. Mereka saling berbisik. Joon Soo kaget saat melihat Byeol kim.


Ibu guru memperkenal Byeol Kim di depan kelas. "Ini Byeol Kim. Dia akan bergabung dengan kelas kita mulai hari ini."
"Hai!" sapa Byeol Kim singkat.
"Dia dulu bersekolah di sekolah ternama Science High School, kalian bahkan tidak dapat memimpikan untuk masuk ke sekolah bergengsi itu. Dia berada di urutan teratas di kelasnya. Tanyakan banyak hal padanya! Let's see. Tempat duduk yang baik untukmu adalah di..." Ibu guru mencoba mencarikan tempat duduk untuk Byeol Kim tapi Byeol segera berjalan ke arah tempat duduk Joon Soo. Ia duduk di sebelah Joon Soo tanpa memperhatikan reaksi kaget Joon Soo.
Ketua kelas terus memperhatikan Byeol Kim.

"Sebenarnya itu adalah tempat duduk yang buruk." ujar ibu guru.
"Apa?" Joon Soo bertanya dengan nada kasar pada Byeol Kim.
"Hai, kita bertemu lagi. Aku Byeol Kim. Ini pasti yang mereka sebut takdir." sapa Byeol Kim ramah diiringi dengan senyumnya.

"Karena ia telah memilih duduk di sampingmu, pastikan sikapmu baik terhadapnya, okay? Mengerti? Cukup sekian." Ibu guru meninggalkan kelas.
"Perhatian!" ketua kelas memberi komando.
"Cukup dan korek hidungmu!" kata Ibu Guru seraya berlalu. Murid-muridnya tertawa mendengar hal itu.
Byeol Kim mengeluarkan seluruh isi tasnya. Bukan buku-buku pelajaran yang memenuhi tasnya, tapi ada banyak mainan.
"Pergi cari tempat lain, saat kau memiliki kesempatan, ok? Pergilah! Pergi." kata Joon Soo pada Byeol yang sedang membereskan letak mainannya di atas meja.
"Ada kotoran di matamu." ungkap Byeol dengan polosnya.
"Apa? Aku tau itu." Joon Soo tertawa. Kebiasaan Joon Soo kalau lagi malu pasti dia ketawa maksa.
"Bukan yang itu, tapi di mata sebelah kiri." ungkap Byeol Kim.


Joon Soo dan temannya berjalan di atap sekolah, mereka tengah membicarakan tentang temannya Gi Seok yang tidak datang ke sekolah.
Joon Soo berkata, "Kau sudah menghubungi Gi-Seok?"
"Dia tidak mengangkat teleponnya. Aku akan mengunjungi tempatnya nanti." Jawab temannya.
"Saat ini , Tyson mungkin mengusirnya untuk selamanya." jawab Joon Soo. Tyson ini nama guru perempuan yang mukulin Joon Soo di episode 1. "Man, ini terlihat sangat serius."
"Kenapa dia tidak dapat datang ke sekolah?" ungkap teman Joon Soo merasa menyesal dengan keputusan Gi seok yang lebih memilih tidak datang ke sekolah.
"Ingin merokok?" tanya teman Joon Soo yang melihat Joon Soo tengah merogoh saku mencari rokok.
"Yeah, kau punya korek api?" kata Joon Soo menerima pemberian rokok temannya.
"Yeah."
Saat teman Joon Soo membantu menyalakan api untuk rokok Joon Soo, tiba-tiba Kim Byeol datang. Ia segera merebut rokok itu.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Joon Soo kesal.
"Merokok melanggar peraturan sekolah. Siswa tidak boleh merokok. Di dalam rokok terdapat 2000 bahan kimia yang tidak baik untuk kesehatanmu. Itu sangat beracun seperti  yang sudah diklasifikasikan oleh Amerika. Dan orang yang merokok memiliki kemungkinan berpenyakit kanker, dua kali lebih besar kemungkinannya dari pada yang bukan perokok." Kim Byeol menjelaskan panjang lebar dengan sangat cepat. cool!
"Hey, diamlah. Dan pergi!" suruh Joon Soo merasa risih.
"Nah, kembalikan koreknya." pinta teman Joon Soo.

Kim Byeol tidak menyerahkan korek itu, ia malah meneruskan keterangannya tentang rokok, seperti tadi, ia bicara dengan sangat cepat. "Terutama bagi perokok yang sudah mulai merokok dibawah umur 20 tahun, maka kemungkinan besar akan terjangkiti banyak penyakit seperti kanker paru-paru, kanker laring, oral cancer, kanker esophagus, kanker kantung kemih, kanker pangkreas dan kanker-kanker lainnya."
"Yo, kau pergi dari sini!" suruh teman Joon Soo.

"Baiklah, ini masih terlihat buruk untukmu!" ungkap Kim Byeol seraya memukul keras kepala teman Joon Soo dan berlari pergi.
"Dari mana makhluk alien itu datang?" ungkap Joon Soo kesal.
"Dia memukulku di kepala!" Teman Joon Soo mengusap-usap kepalanya. Teman Joon Soo ini kayaknya bakal gagar otak, haha.. Waktu berantem sama geng, dia juga dipukul di kepala.



Malam harinya, Joon Soo dan temannya mengunjungi Gi Seok. Mereka berbincang-bincang di pinggir jalan.
"Apa yang telah Tyson kirimkan untukmu?" tanya Joon Soo.
"Tyson tidak terlihat memiliki pilihan yang lain. Dia telah mencoba hal yang terbaik, tapi.. Yang menjadi masalah adalah wakil kepala sekolah." ungkap Joon Soo. Tyson itu guru perempuan yang mukulin Joon Soo di episode pertama.

"Aku rasa tidak apa-apa. Aku dapat hidup tanpa ijazah SMA." kata-kata Gi Seok terdengar sangat sedih.
"Kau tau, bukan seperti itu. Paling tidak datanglah ke sekolah sesekali." Joon Soo mencoba menghibur.
"Apakah aku punya waktu untuk itu, aku harus mendapatkan pekerjaan paruh waktu." Jawab Gi Seok.

Joon Soo memasuki rumahnya diam-diam. Joon Soo merasa aneh, rumahnya sangat sepi, ia memanggil ibu dan ayahnya, "Ibuu.. Ayah"
Rumahnya benar-benar sepi, saat Joon Soo hendak duduk di sofa ia menemukan selembar check dan sebuah video record, handy cam. Joon Soo mengambil lembaran check itu dan mulai menyalakan videonya.

Ternyata video itu berisi pesan-pesan dari orang tua Joon Soo.



"Dear Joon Su. Kau terlalu sulit untuk kami tangani. Jadi kami, meninggalkan rumah. Sekolahmu memanggil kami lagi.  Aku lelah untuk datang ke sekolahmu setiap hari. Hari dimana kau memperbaiki dirimu sendiri dan belajar untuk membersihkan kesalahanmu, kami akan kembali saat itu. Sampai saat itu, good luck! Tentu saja, kartu kredit akan ditutup. 100 dolar adalah uang yang tidak sedikit. Berhematlah." pesan ayah Joon Soo di video rekaman itu.
"Apa-apaan ini."  ungkap Joon Soo seraya meremas lembaran check yang tengah ia pegang.

Joon Soo pergi ke sebuah market, ia hendak membeli makanan.
"Hey, ini benar-benar lelucon. Apa-apaan ini, sebuah acara sitkom televisi? Yah, mungkin ini jalan yang terbaik untukku. Tidak ada seorang pun di rumah yang akan menggangguku lagi." ungkap Joon Soo, ia tengah berbicara lewat telepon dengan temannya. Joon Soo berkeliling mencari makanan favoritnya.
"Apa? Keong lumpur? Katakan pada Gi-Seok bahwa kita akan mengadakan sebuah pesta malam ini. Itu sudah lama. Kita akan mendapatkannya malam ini. Perempuan? Tidak, terima kasih. Aku tidak yakin dengan idemu tentang gadis-gadis cantik. Sudahlah, cukup. Malam ini, hanya akan ada kita bertiga saja, okay?" kata Joon Soo masih dalam pembicaraan di jaringan telepon.



Joon Soo sedang memilih-milih sebuah minuman, ia masih berbicara dengan temannya lewat telepon. Joon Soo tidak menyadari kalau ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Orang itu langsung pergi setelah menaruh sesuatu tepat dibelakang Joon Soo.

Joon Soo mengambil satu botol minuman, dan ketika hendak menaruhnya di keranjang dorong, Joon Soo kaget dengan sesuatu yang ada di belakangnya tadi. Sebuah box bayi dan seorang bayi mungil.
"Apa ini?" ungkap Joon Soo, ia melihat ke segala arah.

Dengan keadaan seperti ini, Joon Soo segera melapor ke bagian informasi dan bagian informasi langsung mengumumkan tentang bayi itu.
"Kami menemukan bayi laki-laki yang berumur 5 sampai 6 bulan tengah dalam pengawasan kami, di kantor customer service. Jika anda mencari bayi laki-laki anda, tolong datang ke kantor customer service."
Joon Soo merasa gelisah karena sudah lama ia berdiri di customer service. "Berapa lama lagi aku harus menunggu di sini? Aku sangat sibuk, kau tahu? Kenapa kalian tidak mencari ibu bayi ini saja?" Joon Soo kesal. Kenapa dirinya harus ada di situasi seperti ini, pikir Joon Soo.
"Jika ibu bayi ini tidak datang, kami harus menghubungi polisi dan memerlukan kau di sini sebagai saksi mata." jawab petugas pria dengan memaksakan senyum.



"Begini, sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tentang hal ini!" Joon Soo membela diri, ia tidak ingin terlibat dalam masalah ini lebih jauh lagi.
"Baiklah kalau begitu, tulis dimana kau bersekolah dan alamat rumahmu." suruh petugas pria seraya memberikan secarik kertas.
"Kenapa?" tanya Joon Soo. Dengan menulis identitas Joon Soo, sama saja ia harus terlibat jauh dalam masalah ini.
"Bukankah kau sangat menjengkelkan?" ungkap petugas pria kesal tapi masih memaksakan senyum. "Ini bagian dari prosedur."
Petugas wanita memberikan sebuah note yang ia temukan di box bayi, "Lihat. Ada sebuah catatan di sini." ungkap petugas wanita seraya memberikan note itu pada petugas pria.
"Myung Seong High School Senior, Han Joon Soo." petugas pria membaca isi notenya. "Aku pikir ini adalah hal yang paling terbaik jika seorang bayi dibesarkan oleh ayahnya, ayahnya adalah seorang siswa SMA? Anak muda jaman sekarang... Apakah kau sudah selesai? Berikan padaku. " pinta petugas pria pada Joon Soo.

"Myung Seong High School Senior, Han Joon Soo. Myung Seong High.." petugas pria itu membacakan keterangan yang ditulis Joon Soo. "Ini kau! Han Joon Soo!" petugas pria itu kaget karena note dari box bayi dengan keterangan yang dibuat oleh Joon Soo sama.
Joon Soo tampak kebingungan.
"O, kau ayahku? Woo hoo!" seru baby wooram. Seperti yang sudah-sudah, dubbing baby wooram bukan suara anak kecil tapi suara pria dewasa yang ngebas. Apa yang baby Woo rham ucapkan, tidak ada yang tahu dan mengerti.

Di rumah Joon Soo. Joon Soo dan ketiga temannya tengah memandangi foto saat Joon Soo kecil. Joon Soo kecil benar-benar mirip dengan baby Woo Rham.
"Dia benar-benar dan sangat mirip denganmu bila dilihat dari sisi manapun. Tidak perlu ada yang ditanyakan tentang hal ini. Tidak perlu test DNA. Ini sungguhan!" kata teman Joon Soo.
"Apakah kau keberatan untuk diam?" Joon Soo kesal.
Tiba-tiba Kim Byeol muncul dari arah bawah. Otomatis Joon Soo dan kedua sahabatnya sangat kaget melihatnya. Hahaa.. sumpah ngakak saya liatnya. Kim Byeol memperhatikan foto Joon Soo kecil.
"Siapa yang mengundangnya?" Joon Soo kesal.
"Begini, aku berlari ke arahnya di depan toko grosir. Ketika aku berkata bahwa aku akan datang ke rumahmu, dia..." kata salah satu teman Joon Soo mencoba menjelaskan.

Joon Soo kesal dan ia merasa risih karena Kim Byeol selalu mengikutinya. "Hey, apa yang kau inginkan?!" tanya Joon Soo pada Kim Byeol.
Kim Byeol membalikkan badannya, ia menatap Joon Soo. "Aku sedikit kecewa padamu.  Tapi jika ini adalah sebuah ujian dari tuhan, maka aku akan dengan senang hati untuk menanggungnya. Kau tahu apa yang mereka katakan, --jika kau tidak dapat menghindarinya, maka nikmatilah.--" Kim Byeol mencoba untuk menghibur Joon Soo.
"Aku di sini untuk menghilangkan hal itu. Jadi, berhenti  untuk menggangguku dan pikirkan urusanmu sendiri." kata Joon Soo dengan meninggikan nada suaranya.
"Aku pikir, ini sudah menjadi masalah kita bersama." jawab Kim Byeol tanpa ada rasa bersalah.

"Kyaaaaaaaaa!!" Joon Soo berteriak ke arah Kim Byeol.
Dan seketika itu, baby Woo Rahm menangis.
"Kenapa kau berteriak? Kau membuat kaget bayi ini." kata Kim Byeol seraya mengambil Baby Woo Rham dari Joon Soo dan menggendongnya. "Don't worry, sweetie. It's okey." Kim Byeol mencoba menenangkan tangis Baby Woo Rham.

Di kamar Joon Soo, Joon Soo benar-benar stress dengan apa yang terjadi hari ini. Ia berbaring di kasur, sedangkan kedua temannya sedang menikmati makanan ringan yang dibeli Joon Soo.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya teman Joon Soo.
"Apakah ia punya pilihan lain? Dia lebih baik membesarkan bayi itu dengan baik." jawab Gi seok.
"Aku tidak tahu." Jawab Joon Soo pasrah.
"Yo, siapakah ibunya? Pikirkan!" seru teman Joon Soo.
"Diam!" ungkap Joon Soo kesal seraya melemparkan sesuatu ke arah temannya yang berkata seperti itu. "Aku sedang berpikir, tahu?"
Kim Byeol yang sedang menggendong Baby Woo Rham masuk ke dalam kamar Joon Soo. "Owaah.. Kamar tidur yang bagus." seru Kim Byeol. "Baby Woo-rahm sedang tidur sekarang."
"Hey, kenapa kau masih ada disini?" tanya Joon Soo.
"Tapi aku adalah BFF mu." Jawab Kim Byeol. (Best Friend Forever iah?)
"BFF my ass.." Joon Soo tertawa sinis.


"Berlaku baiklah padanya. Kau harus berterimakasih padanya karena sudah menjaga Baby Woo-Rahm." kata Gi Seok. "Mau segelas bir?"
"Tidak, terimakasih." jawab Kim Byeol segera.


"Alkohol mengurangi jumlah sel darah putih, yang membuat menurunnya sistem imun tubuh. Menganggu sistem berpikir dan juga...." penjelasan Kim Byeol yang panjang lebar segera di putus oleh Joon Soo.
Joon Soo menyuruhnya keluar dari kamar. "Kau, pergilah!"
"Aku pikir, sesuatu yang berkaitan dengan Baby Woo-Rahm jauh lebih penting sekarang. Sebuah kehidupan baru yang seharusnya di syukuri." Kim Byeol berkata bijak.


"Terimakasih." jawab baby Woo Rahm seraya tersenyum.
"Pikirkan apa yang seharusnya kau lakukan untuk membesarkannya dengan baik, sebagai ayahnya." Kim Byeol memberikan nasihat pada Joon Soo.
"Aku bilang, PERGI!" usir Joon Soo.
"Baiklah, ayah Wooram." ujar Kim Byeol.



"Apa? Ayah? Aku?" Joon Soo kaget sendiri mendengar dan bahkan menyadari kalau sekarang ia mau tidak mau menjadi seorang ayah dari anak yang belum diketahui rimbanya. "Apakah itu masuk akal?"
"Yup." jawab kedua teman Joon Soo seraya mengangguk bersamaan.
Di rumah Kim Byeol. Kim Byeol menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan masakan untuk esok pagi.
"Ibu." panggil Kim Byeol.
"Kembalilah ke dalam kalau kau tidak ingin membantu. Kau menggangguku." ujar ibu.

"Ibu, apa tanggapanmu tentang seorang anak di luar nikah? Siapa yang akan mendapatkan hak asuh anak?" tanya Kim Byeol.
Mendengar pertanyaan itu, ibu Kim Byeol segera memukul kepala anaknya dengan mangkok plastik.
"Apakah kau bekerja di opera sabun, sekarang?!" tanya ibu kesal.
"Ibu!" Kim Byeol merasa kesakitan, hahaa, mungkin ini balasan dari pukulan yang Kim Byeol kasih ke temennya Joon Soo. XD
"Mungkin tidak." Kim Byeol mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya.



Joon Soo hendak berangkat ke suatu tempat, ia menggendong Baby Woo Rahm seraya mengendarai motor.


Joon Soo masuk ke sebuah restaurant, ia disambut hangat oleh pelayan yang juga sudah mengenalnya. Ya ampun, ternyata pelaya itu mantan pacarnya Joon Soo.
"Selamat datang. Lewat sini silahkan." sapa pelayan itu pada customer yang lain.
"Dua tamu sudah datang." Pelayan itu tengah memberitahu bagian pelayanan makanan. "Han Joon Soo. Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu? Apa yang membawamu ke sini? " ucap pelayan itu setelah melihat Joon Soo yang datang menghampirinya.




Ternyata seharian ini Joon Soo sudah mengunjungi semua mantannya, Joon soo memiliki banyak mantan pacar. Joon Soo berpikir, kemungkinan besar dari salah satu pacarnya itu adalah ibu dari baby Woo Rahm. Joon menanyakan hal yang sama ke semua mantan pacarnya, "Apakah mungkin.... Kau ibu dari bayi ini?" tanya Joon Soo penuh dengan kecurigaan.
"Apa?!" semua mantannya kaget dan mereka tidak terima Joon Soo berkata seperti itu pada mereka. Maka para mantan pacar Joon Soo menampar Joon Soo, hahaaa.. Berarti hari ini Joon Soo sudah tampar dari banyak mantan pacarnya.



"Oaha.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Lalu siapa dia? Siapa kau? Bisa-bisa aku gila." Joon Soo duduk di sebuah taman yang sepi, ia mengeluh pada  dirinya sendiri.

Joon Soo sedang sibuk membuat susu untuk Baby Woo Rham, Joon Soo terlihat kesulitan untuk membuatnya. Beberpa susu bubuk berceceran di lantai dan meja.
"Biarkan itu dibawah. Aku sedang membuatkanmu makanan sekarang." Joon Soo kesal karena baby Woo Rham yang tidak berhenti menangis.
"Papa, aku baru saja poo poo." kata baby Woo Rham. Seperti yang udah dijelasin tadi, kalau apa yang dikatakan baby woo rahm itu engga bisa didengar oleh Joon Soo. Cuma sebuah terjemahan dari bahasa tangisnya baby Woo Rham.
"Diamlah." Joon Soo kesal.

"Poo poo!" jerit baby Woo Rahm, seraya menendang botol susu hingga jatuh ke lantai.
"Hey, apakah kau tidak ingin makan? Kenapa kau menendang makananmu?" Joon Soo kesal.
"Ini hal yang besar! Tidak kah kau mencium bau busuk? Ugh, aku bisa gila bila di sini terus." balas Baby Woo Rahm dan tangisannya semakin menjadi.
Dengan sengaja baby Woo Rahm memukul pipi Joon Soo.
Joon Soo geram, "Apa kau ini, seorang berandal? Huh?"
"Apa kau ? Keras kepala?" balas baby Woo Rahm.
"Dari mana asalmu?" bentak Joon Soo.
"Apa kau?" Joon Soo semakin kesal karena baby woo rahm tidak berhenti menangis.
"Kau juga apa? seorang ayah?" tangis baby woo rahm.
"Jangan bergerak, teman."
"Aku bilang poo poo!"

Joon Soo mengambil ponselnya kemudian mencoba untuk menghubungi Kim Byeol.
"Ayo lah, cepat!" ungkap Joon Soo tidak sabar karena Kim Byeol tidak juga mengangkat panggilannya.
"Aku perlu pergi ke kamar mandi!" Baby woo rahm menangis.
"Aku akan kembali!" kata Kim Byeol seraya berlari menuruni anak tangga.


Kim Byeol telah sampai di rumah Joon Soo dan ia sedang mengganti popok Baby Woo Rahm.


"Saat seorang bayi menangis, yang pertama kali harus kau lakukan adalah mengecek popoknya. Kemudian kau memberinya makan. Dan pegang dia, setelah itu letakkan tanganmu di atas perutnya, kemudian pijat sercara perlahan ke arah bawah. Dan sekarang dudukkan dia tegak lurus, dan tepuk pelanlah punggungnya. Sebelum kau memberinya makan, saat kau tidak yakin apakah ia lapar atau tidak, taruh telunjukmu dekat dengan mulut bayi seperti ini, jika dia membuka mulutnya dan mengikuti gerakan tanganmu, berarti tandannya bayi itu lapar." Kim Byeol menjelaskan panjang lebar, tapi ternyata Joon Soo tidak mendengar apa yang baru saja Kim Byeol jelaskan. Joon Soo malah tertidur nyenyak di sofa.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi kau lebih baik dari pada ayahmu. Paling tidak, kau tersenyum ke arahku." ungkap Kim Byeol pada Baby Woo Rahm.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar