Kamis, 24 Mei 2012

Thomas & Uber Pun Harus Kandas, LAGI!

Kalau denger nama Thomas, pasti ingetnya kesederet selebritis Indonesia, sebut saja Thomas Jorgy, Thomas Nawilis, Jeremi Thomas, atau yang lebih pinteran dikit kita bakalan inget sama si penemu bola lampu, eyang Thomas Alfa Edison. Namun jika nama Thomas ini disandingan dengan nama Uber...Hmmm, ingetnya apa hayooo??? Susi Susanti? Taufik Hidayat? atau nama-nama lain diperbulutangkisan dunia seperti Peter Gade Cristiansen mantan pemain No.1 asal Denmark, atau jagoan daratan China Lin Dan? dan pemain No.1 dunia saat ini Lee Chong Wey?




Kemarin, aku menyempatkan diri buat nonton perebutan piala Thomas-Uber yang diselenggarakan di China, agak males sih nontonnya, karena dominasi China yang gada matinya, tapi rasanya rindu juga melihat para jagoan Indonesia beraksi. Harap-harap cemas melihat aksi mereka.. Menuju semifinal, Indonesia yang sebelumnya dipenyisihan grup menang telak atas Inggris, lalu dibantai 5-0 oleh tuan rumah (China) bernafas lega karena baik tim Thomas maupun Uber harus berhadapan dengan Jepang, yang dianggap mudah. Hadehhh, kebiasaan Indonesia banget nih. Lawan yang dianggap mudah ini ternyata *Hufffhhh....masih kecewa* harus menjadi sejarah kelam Indonesia. Pahit banget deh... aku nontonnya sampai jantungan...sedih sekaligus miriisss... :(

Tim Thomas kalah 3-2, setelah Rumangka bermain sangat kaku di babak terakhir, bakhan bisa dibilang tidak memberikan perlawanan, apalagi menampilkan permainannya yang terbaik. Padahal saat itu dia menjadi penentu. Entah karena tegang atau apapun alasannya, rasanya sayang banget bagi seorang Rumangka menyia-nyiakan kesempatan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan (merdekaaaa!!!!). Padahal aku pernah liat aksi dari Rumbaka saat sesi latihan melawan Taufik Hidayat, dan bisa dibilang woww... dia mampu, bisa, bahkan  kelihatan sekali sanggup menandingi Taufik. Bibit baru bagi bulutangkis Indonesia. Tapi kemarin kenapa oh kenapa????

Ahsan & Alvent berhasil menyeimbangkan kedudukan Indonesia Vs Jepang

Firdasari pun mampu mengalahkan pemain Jepang dan menyelamatkan Indonesia yang saat itu tertinggal 2-0 atas Jepang.

Sebelas-dua belas dengan Tim Thomas, Tim Uber juga harus mengalami kekalahan 3-2 dari Tim Uber Jepang. Ceritanya pun nyaris serupa, Tunggal dan Ganda pertama gagal buat dapat point, namun tunggal dan ganda kedua mampu menyeimbangkan keadaan. Penentunya adalah Lindaweni, pemain berusia 22 tahun. Jauh dari kekakuan Rumangka yang menjadi penentu bagi Tim Thomas, Lindaweni menyuguhkan permainan yang baik. Tidak terlihat tegang, dan mampu memberikan perlawanan yang sulit bagi tim lawan. Hanya saja, lagi-lagi mental berbicara.... setelah memimpin dibabak awal, Lindaweni harus menggugurkan harapan Tim Uber setelah ditekuk tipis 21-18, 13-21, 20-22, Iks....iks....

Pertanyaannya adalah Why?? Why? Why?????

Bisa dibilang Bulutangkis adalah satu-satunya olah raga yang sangat 'Indonesia', olah raga yang sangat dibanggakan, nama Indonesia cukup ditakuti olah raga ini. Aku masih ingat bagaimana Euforianya masyarakat pada masa keemasan (yang sebelum mereka juga banyak, jamannya mama aku seperti Rudi Harto, Icuk Sugiarto, Liem Sue King, dll) Susi Susanti, Mia Audina, Hendrawan, Ricky Subagja-Rexy Maenaki, Sigit-Chandra, lalu berlanjut (dan semakin surut) pada masa Taufik Hidayat, Simon Santoso, atau pasangan Ganda Markis dan Kido. Tapi semuanya tidak ada yang benar-benar mampu mendominasi seperti pada masa Susi Susanti dulu. Why??? Padahal dulu kita bisa menjuarai Thomas dari 1994-2002 masanya Taufik Hidayat...sekarang?? iks...iks....kalau di itung-itung kita mengkoleksi 13 piala Thomas, dan 3 piala Uber, sementara China mengkoleksi 7 Piala Thomas, dan 11 piala Uber.. Udah kalah rekor kita... :(



Mungkin salah satu kelemahan kita adalah masih saja merasa sebagai salah satu negara yang menguasai perbulutangkisan dunia, sementara negara lain tumbuh semakin baik, kita malah kentang. Akhirnya menyebabkan tim kita harus tumbang *cie, bahasanya dah kaya Jurnalis beneran aja* ditangan Jepang yang dianggap mudah. Jepang mengukir sejarah sebagai negara yang berhasil mengehentikan langkah Indonesia di Thomas-Uber untuk bertahun-tahun lamanya. 

Sangat disayangkan memang, tapi yang sudah terjadi ya sudahlah.... Hanya saja dari sini kita bisa mengukur kemampuan perbulutangkisan kita sekarang ini. Awalnya hanya China saja yang menjadi musuh bebuyutan kita di bulutangis, permainan China gak bisa diremehkan, bahkan sangat-sangat baik. Beberapa tahun kebelakang China menjadi raksasa Bulutangkis dunia. Lalu muncul Korea dan Denmark yang juga mulai memberi persaingan yang ketat bagi Indonesia. Berselang setelah itu, Malaysia ikut-ikutan berkompetisi dengan apik, bahkan Lee Chong Wey pemain nomer satu dunia saat ini berasal dari negaranya Upin-Ipin itu. Gak sampai disitu saja, di Thomas dan Uber Cup ini, satulagi pesaing Indonesia yang baru saja bangkit adalah Jepang, negara yang gak ada apa-apanya di bidang ini ternyata KINI mampu memberikan perlawanan yang sangat baik, bahkan berhasil memulangkan Tim Indonesia dengan lebih cepat. Hufffhhhh....

Kalau seperti ini sih, Indonesia harus bergegas menanggalkan gelar negara gudangnya pebulutanggis terbaik di dunia. Akan sulit rasanya mengejar kedikdayaan China, yang sangat konsisten dan merata. Kita harus bisa menciptakan kembali Liem Sue King, Rudi Hartono, Ricky-Rexy, Susi Susanti, yang jauh lebih baik, jauh lebih mempuni. Karena persaingannya kini menjadi ratusan kali lebih berat.

Ayooo Tim Indonesiaaaaa.... semangat berprestasi, para sporter sudah kangen membahana station petandingan dengan yel-yel kebanggaan...

Sumber Info : Detik.com & Inilah.com
Kredit : Putridianahere

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar